Surabaya, 3 April 2026 – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Jawa Timur menggelar seminar Jatim Talk bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur. Dalam forum ini, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir dan menjadi salah satu keynote speaker.
Seminar ini mengangkat tema "Sinergi Penguatan Daya Saing Jawa Timur melalui Hilirisasi Komoditas Unggulan dan Iklim Investasi Berkelanjutan", sekaligus
menjadi bagian dari diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Jawa Timur yang diterbitkan secara triwulanan. Kegiatan ini juga merupakan rangkaian menuju East Java Economic Forum
(EJAVEC) 2026 yang akan diselenggarakan pada September 2026.
Dalam paparannya, Khofifah mengatakan dinamika geopolitik global yang semakin meningkat, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah, diperlukan sinergi, kolaborasi, serta langkah adaptif untuk menjaga stabilitas dan melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Diketahui, kinerja ekonomi Jawa Timur yang tetap solid, dengan pertumbuhan sebesar 5,33% (yoy) pada tahun 2025.
"Hal itu menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan ke depan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada," kata Khofifah.
Khofifah menegaskan ketahanan ekonomi Jawa Timur harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor sekaligus beradaptasi untuk menghadapi tantangan serta menangkap peluang di tengah situasi global saat ini.
Khofifah menekankan pentingnya peran strategis Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Peran ini diwujudkan melalui penguatan kerja sama perdagangan dan investasi antar daerah, percepatan hilirisasi komoditas strategis, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif guna menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi.
Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Khofifah menyebut Jawa
Timur juga memegang peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan.
"Upaya tersebut didukung melalui hilirisasi lanjutan dari bahan baku olahan, penguatan distribusi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia," ungkapnya.
Lebih lanjut Khofifah menekankan bahwa pangan menjadi salah satu kunci menghadapi situasi global yang tidak menentu. Jawa Timur saat ini menjadi provinsi dengan ketahanan pangan terbaik, dan menyuplai berbagai bahan pokok di berbagai wilayah di Indonesia bahkan pasar ekspor.
"Kerja sama perdagangan dan investasi antar daerah tentu harus terus diperkuat. Kemudian percepatan hilirisasi komoditas strategis dan penciptaan iklim investasi kondusif itu juga sangat penting," terangnya.
"Dan yang utama adalah Jawa Timur harus terus melakukan penguatan di sektor pangan. Kuncinya lahan di sektor pangan kita pastikan memadai, kemudian penguatan distribusi serta penguatan SDM," tambahnya.
Khofifah membeberkam kondisi global saat ini berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional termasuk di Jawa Timur.
"Tekanan tentu ada, tapi kita juga harus tetap melihat peluang. Bahwa peluang tetap terbuka melalui pemanfaatan sumber pertumbuhan baru, penguatan iklim investasi, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta dukungan kebijakan strategis yang terarah," jelasnya.
Khofifah berharap forum Jatim Talk ini bisa menjadi titik temu antar pemangku kepentingan untuk menyamakan persepsi dalam merespons dinamika ekonomi global dan dampak konflik geopolitik.
Dalam seminar ini, Bank Indonesia Jawa Timur turut menyerahkan buku LPP kepada Gubernur Jawa Timur. Buku tersebut memuat sejumlah rekomendasi kebijakan utama, yaitu mulai pembangunan dan integrasi distribusi
barang. Kemudian percepatan investasi untuk mendukung hilirisasi industri, termasuk komoditas pertanian unggulan.
Lalu penguatan ketahanan pangan dan agribisnis dalam pengendalian inflasi, pengembangan sektor pariwisata, ekonomi syariah, dan UMKM serta optimalisasi kredit produktif. Kemudian optimalisasi pendapatan asli daerah pasca-opsen, percepatan dan perluasan digitalisasi fiskal serta sistem pembayaran, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja dan kesejahteraan perdesaan.
Rekomendasi tersebut merupakan hasil kajian berbasis riset yang disusun melalui karya tulis dalam rangkaian East Java Economic Forum (EJAVEC).
