Halal Bihalal HIKAM Pantura, Mbah Bolong Ingatkan Pentingnya Menjaga Hubungan dengan Kyai sebagai Sumber Keberkahan

LAMONGAN, 11 APRIL 2026 – Himpunan Keluarga Alumni Al-Muhibbin (HIKAM) wilayah Pantura (Tuban, Lamongan, dan Bojonegoro) menggelar Halal Bihalal bersama Pengasuh Bumi Damai Al-Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Sabtu (11/4) siang. Kegiatan yang berlangsung di RM Aqiilah, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan ini dihadiri oleh alumni, wali santri, serta masyarakat umum yang antusias mengikuti rangkaian acara.

Sejak siang hari, para peserta telah memadati lokasi kegiatan dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Halal Bihalal ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahim sekaligus menyambung sanad keilmuan dan nilai-nilai pesantren yang diwariskan oleh Romo KH. Moch Djamaluddin Ahmad.

Dalam sambutan dan arahannya, Ketua Umum HIKAM Pusat, KH. Nur Hadi atau yang akrab disapa Mbah Bolong, menjelaskan bahwa HIKAM merupakan wadah besar yang menaungi tiga kategori anggota, yakni anggota istimewa dari kalangan dzurriyah pengasuh, anggota biasa dari alumni Bumi Damai Al-Muhibbin, serta anggota kehormatan yang memiliki kontribusi terhadap perkembangan pesantren.

Ia mengibaratkan alumni sebagai pohon yang akan tumbuh subur dan berbuah lebat jika memiliki akar yang kuat. “Akar itu adalah keterhubungan dengan kyai. Kalau hubungan itu terjaga, maka keberkahan akan mengalir,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mbah Bolong menegaskan bahwa anggota HIKAM harus memiliki karakter utama, yakni munadzim (mampu menata), muwahid (pemersatu), mujaddid (pembaharu), dan mujahid (pejuang). Ia juga mengingatkan pentingnya meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW, yakni memudahkan urusan serta menyampaikan dakwah dengan penuh kabar gembira, bukan dengan cara yang menakutkan.

Suasana semakin hidup saat sesi testimoni alumni yang disampaikan oleh KH. Yusuf Ali dari Gresik. Alumni angkatan 1980 yang juga pernah menjadi pengurus Pondok Al-Muhibbin ini berbagi pengalaman spiritualnya bersama Abah Djamal.

Ia mengenang pesan Abah bahwa kemanfaatan ilmu tidak ditentukan oleh banyaknya kitab yang dipelajari, tetapi dari keikhlasan dalam mengabdi kepada kyai dan santri. “Ilmu yang manfaat itu bukan perkara kitabnya banyak, tapi bagaimana kita ikhlas ngladeni kyai dan santri,” tuturnya.

KH. Yusuf Ali juga mengisahkan bahwa dirinya justru mulai benar-benar memahami ilmu setelah kembali ke masyarakat, dengan bimbingan langsung dari Abah Djamal yang sering datang dan memberi arahan. “Abah pernah berpesan, tak dungakne ilmumu meski sedikit tapi manfaat, dan dahulukan kepentingan masyarakat,” kenangnya.

Ia juga menekankan tiga hal utama yang selalu diajarkan Abah Djamal, yakni menjaga adab, istiqomah, serta menjauhi hal-hal yang syubhat. “Jangan pernah menyakiti hati guru. Itu pesan yang selalu saya pegang,” tegasnya.

Memasuki acara inti, Mauidzoh Hasanah disampaikan oleh KH. Mohamad Idris Djamaluddin yang akrab disapa Kyai Idris Djamal. Dalam taujihatnya, beliau menegaskan bahwa kegiatan Halal Bihalal ini merupakan bagian dari upaya menyambung silaturahim dengan siapa pun yang memiliki hubungan baik dengan Abah Djamal.

“Kegiatan ini untuk menyambung silaturahim dan menjaga hubungan dengan siapa saja yang sambung dengan Abah,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini, pengasuh ingin mendengar langsung kabar dan perkembangan alumni di berbagai daerah sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.

Selain itu, Kyai Idris Djamal mengisahkan kebijaksanaan Abah Djamal dalam mendidik putra-putrinya, yang sarat dengan nilai kasih sayang, keteladanan, dan kedisiplinan.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi musyawarah yang menghadirkan berbagai pengalaman inspiratif dari jamaah. Bapak Baidlowi menceritakan perjalanan spiritualnya yang sempat berpindah haluan, namun akhirnya kembali ke Nahdlatul Ulama berkat keberkahan Abah Djamal.

Sementara itu, Bapak Rubai, jamaah Al Hikam, mengaku pertama kali mengenal Abah Djamal melalui siaran radio. Ketertarikannya membuatnya mencari lokasi pengajian hingga akhirnya rutin mengikuti kegiatan di Al-Muhibbin. “Alhamdulillah, sekarang bisa istiqomah ikut ngaji, bahkan bisa mengajak rombongan sampai dua bus,” ujarnya.

Mbah Bolong dalam sesi tersebut menegaskan bahwa potensi alumni Al-Muhibbin sangat besar dan perlu dimaksimalkan melalui wadah HIKAM untuk kemanfaatan bersama. “Alumni Muhibbin itu banyak yang punya kelebihan. Tinggal bagaimana kita mengelola dan memanfaatkannya untuk kebaikan,” pungkasnya.

Kegiatan berlangsung penuh kehangatan dan kebersamaan, ditutup dengan suasana silaturahim yang erat antaralumni, wali santri, dan masyarakat.

Melalui Halal Bihalal ini, HIKAM Pantura kembali meneguhkan peran strategis alumni sebagai penjaga nilai, penggerak dakwah, serta agen kemanfaatan sosial yang berakar kuat pada tradisi pesantren.