Daya Kritis Terancam, Wamenkomdigi Minta Bijak Gunakan AI

Jakarta — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) mengingatkan masyarakat terkait risiko ketergantungan terhadap kecerdasan artifisial (AI) yang dapat memengaruhi daya kritis dan kemampuan berpikir mandiri.

Pesatnya perkembangan teknologi AI memang memberikan kemudahan dalam berbagai aktivitas, mulai dari pendidikan hingga pekerjaan. Namun, penggunaan yang berlebihan tanpa disertai pemahaman yang tepat berpotensi menimbulkan dampak negatif, terutama dalam menurunnya kemampuan analisis dan penalaran.

Wamenkomdigi menekankan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir manusia. Ketergantungan berlebih dikhawatirkan membuat pengguna, khususnya generasi muda, cenderung menerima informasi tanpa proses verifikasi dan analisis yang mendalam.

Selain itu, fenomena ini juga berisiko melemahkan daya kritis serta kemandirian dalam menyelesaikan masalah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia jika tidak diantisipasi dengan baik melalui edukasi dan literasi digital.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mendorong peningkatan literasi digital agar masyarakat mampu menggunakan AI secara bijak dan bertanggung jawab. Pendampingan dari lingkungan pendidikan dan keluarga juga dinilai penting untuk memastikan pemanfaatan teknologi tetap memberikan manfaat tanpa mengurangi kemampuan berpikir manusia.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan kapasitas kognitif masyarakat di era digital yang semakin berkembang pesat.