https://pansos.kepahiangkab.go.id/ https://devrumaroof.techarea.co.id/ https://sob-andre.com/register https://siami.uki.ac.id/ https://www.hotel-olympia.cz/ https://lms.ikp-rao.ru/ https://drc.ge/ https://www.biner.co.id/ https://nusacomtech.co.id/ SLOT PULSA https://siandini.sumbawakab.go.id/ https://www.dierenartsdemaere.be/ https://transparencia.unajma.edu.pe/ https://www.ei.yzu.edu.tw/ https://www.dierenartsdemaere.be/diensten https://apdesign.cz/ https://sob-andre.com/ https://www.farnhambarbers.com/farnham/about-us https://datascience.or.id/ https://fptcapital.com.vn/ https://apdesign.cz/aktuality
Partisipasi Semesta dalam Doa Guru untuk Pendidikan Bermutu Kedaiberita.com

Partisipasi Semesta dalam Doa Guru untuk Pendidikan Bermutu

Oleh : Zainal Muttaqin**

Belakangan ini, jagat media sosial dihangatkan oleh potongan video pidato Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dalam prosesi wisuda. Dengan tenang dan penuh ketulusan, beliau menjelaskan alasan tetap menggunakan tanda tangan basah pada ijazah dan transkrip mahasiswa, alih-alih beralih ke tanda tangan elektronik.

Alasannya sederhana, tetapi menyentuh: agar setiap goresan tanda tangan itu disertai doa. Ia bahkan mengaku rutin mendoakan para mahasiswanya setiap usai salat.

Di tengah arus modernisasi yang menuntut efisiensi dan digitalisasi, sikap tersebut terasa seperti oase. Ia mengingatkan kita pada satu hal yang kerap terlupakan: pendidikan bukan hanya proses teknis, tetapi juga proses batin. Ada dimensi yang tidak terlihat, namun sangat menentukan—doa seorang guru.

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 kembali mengetuk kesadaran kita tentang makna pendidikan yang sesungguhnya. Tema tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, menegaskan bahwa pendidikan adalah kerja bersama—melibatkan negara, masyarakat, keluarga, dan tentu saja, guru sebagai aktor utama.

Namun di tengah derasnya modernisasi pendidikan—mulai dari kurikulum berbasis kompetensi, digitalisasi pembelajaran, hingga kecerdasan buatan—ada satu dimensi yang mulai terpinggirkan: dimensi batiniah dalam relasi guru dan murid. Dimensi ini memang tidak kasat mata, tetapi justru menjadi fondasi paling mendasar dalam membangun kualitas manusia.

Guru dan Makna Pendidikan

Dalam perspektif filsafat ilmu, pendidikan tidak hanya berbicara tentang epistemologi (bagaimana pengetahuan diperoleh), tetapi juga ontologi (hakikat manusia) dan aksiologi (nilai dan tujuan pendidikan).

Jika manusia dipandang sebagai makhluk utuh—yang memiliki jasmani dan ruhani—maka pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek kognitif semata.

Sayangnya, praktik pendidikan modern sering kali terjebak dalam reduksionisme. Guru diposisikan sebagai “penyampai materi,” sementara murid menjadi “penerima informasi.” Relasi ini terasa kering, mekanistik, dan kehilangan ruh.

Tugas guru seolah selesai ketika perangkat pembelajaran lengkap, proses mengajar terlaksana, dan evaluasi telah dilakukan. Padahal, dalam tradisi pendidikan klasik—terutama dalam khazanah Islam—guru bukan sekadar pengajar, melainkan pembimbing jiwa.

Ia tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai, membentuk karakter, dan menyentuh batin muridnya.

Doa sebagai Komunikasi Transenden

Dalam perspektif ilmu komunikasi, relasi guru dan murid tidak hanya berlangsung pada level verbal dan nonverbal, tetapi juga pada level transendental. Doa adalah bentuk komunikasi yang melampaui ruang dan waktu—komunikasi antara manusia dengan Tuhan yang berdampak pada kehidupan manusia lainnya.

Ketika seorang guru mendoakan muridnya, ia sedang melakukan komunikasi yang paling tulus dan paling dalam. Tidak ada kepentingan, tidak ada manipulasi, tidak ada rekayasa citra. Yang ada hanyalah harapan, keikhlasan, dan cinta.

Di sinilah doa menjadi energi sunyi dalam pendidikan. Ia tidak terlihat dalam rapor, tidak tercatat dalam kurikulum, tetapi dampaknya bisa melampaui capaian akademik. Banyak kisah keberhasilan yang tidak bisa dijelaskan semata oleh logika usaha dan kemampuan, tetapi juga oleh keberkahan doa orang tua dan guru.

Apa yang disampaikan oleh Rektor UII tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya soal sistem yang rapi, tetapi juga tentang sentuhan batin yang tulus.

Tradisi Pesantren yang Terjaga

Jika kita menoleh ke madrasah dan pesantren, tradisi doa guru kepada murid masih terjaga dengan kuat. Relasi antara kiai dan santri tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga spiritual.

Seorang kiai tidak hanya mengajarkan kitab, tetapi juga mendoakan santrinya agar ilmunya bermanfaat, hidupnya berkah, dan masa depannya cerah. Dalam banyak tradisi, keberhasilan seorang santri sering dikaitkan dengan ridha guru dan doa yang menyertainya.

Dalam Islam, posisi guru sangat mulia. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Abu Dawud). Guru tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga nilai-nilai kenabian, termasuk kasih sayang dan doa.

Menariknya, Islam tidak hanya menekankan penghormatan secara moral, tetapi juga penghargaan secara materiil terhadap guru. Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW membolehkan mengambil upah dari mengajarkan Al-Qur’an. Bahkan, kisah sahabat yang menjadikan pengajaran Al-Qur’an sebagai mahar pernikahan menunjukkan betapa tingginya nilai ilmu.

Para ulama salaf juga menegaskan pentingnya memuliakan guru. Dalam praktiknya, ujrah (upah) bukan sekadar kompensasi ekonomi, tetapi bentuk penghormatan terhadap kemuliaan ilmu yang diajarkan, meskipun hanya satu huruf dari Al-Qur’an.

Hal ini menegaskan bahwa pendidikan dalam Islam adalah relasi yang utuh: ada penghormatan, keberkahan, dan keseimbangan antara dimensi spiritual dan material.

Hardiknas dan Partisipasi Semesta

Tema Hardiknas 2026 menekankan pentingnya partisipasi semesta. Artinya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau kurikulum, tetapi juga oleh kontribusi setiap individu dalam ekosistem pendidikan.

Surat edaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menegaskan pentingnya partisipasi aktif seluruh warga satuan pendidikan, serta pelaksanaan kegiatan yang aman, tertib, dan bertanggung jawab. Ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal sistem, tetapi juga soal keterlibatan dan kesadaran bersama.

Dalam konteks ini, doa guru adalah bentuk partisipasi yang sering terlupakan. Ia tidak membutuhkan anggaran, tidak memerlukan program khusus, tetapi memiliki dampak yang sangat besar. Doa adalah kontribusi batin yang memperkaya makna pendidikan.

Mengembalikan Ruh Pendidikan

Di era digital yang serba cepat dan efisien, kita memang membutuhkan inovasi, teknologi, dan sistem yang modern. Namun, kita tidak boleh kehilangan ruh pendidikan itu sendiri. Guru bukan hanya profesi, tetapi juga panggilan jiwa.

Seorang guru yang mengajar dengan hati, mendoakan dengan tulus, dan membimbing dengan kasih sayang akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.

Hardiknas 2026 seharusnya menjadi momentum refleksi. Sudahkah kita memaknai pendidikan secara utuh? Sudahkah guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendoakan? Sudahkah murid tidak hanya belajar, tetapi juga menghormati, bahkan memuliakan guru mereka?

Pendidikan tidak hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi juga tentang apa yang dipanjatkan dalam doa seorang pendidik.

Dan boleh jadi, di balik setiap keberhasilan seorang murid, tersimpan doa seorang guru yang menentukan arah masa depan.

** (Dosen Unipdu Jombang / Kabag Humas Kantor Gubernur Jawa Timur)