Oleh: Ridwan (Kepala SMP Islam Al Madinah)
Setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional, publik hampir selalu menempatkan guru sebagai pusat perhatian. Guru dipuji sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”, sebuah penghormatan yang sepenuhnya layak. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara jujur: apakah pendidikan memang hanya menjadi tanggung jawab guru?
Sejak lama, Ki Hajar Dewantara telah mengingatkan melalui konsep Tri Pusat Pendidikan: sekolah, keluarga, dan masyarakat. Ketiganya bukan entitas yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan yang saling menopang. Pendidikan akan pincang jika hanya bertumpu pada salah satunya.
Pandangan ini diperkuat oleh teori ekologi perkembangan dari Urie Bronfenbrenner yang menyatakan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai lingkungan yang saling berinteraksi, terutama keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan kata lain, pendidikan adalah proses sosial yang melibatkan banyak pihak, bukan sekadar aktivitas di ruang kelas.
Sekolah dan Batasnya
Tidak dapat disangkal, sekolah merupakan pusat pembelajaran formal. Di sanalah siswa memperoleh pengetahuan akademik, keterampilan dasar, serta bimbingan dari guru sebagai fasilitator pembelajaran. Kurikulum, metode pengajaran, dan asesmen dirancang secara sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Namun, realitas waktu menunjukkan keterbatasan sekolah. Anak hanya menghabiskan sekitar 6–8 jam per hari di sekolah. Selebihnya, mereka berada di luar pengawasan institusi pendidikan formal.
Laporan Education at a Glance dari OECD menegaskan bahwa capaian belajar siswa sangat dipengaruhi oleh faktor di luar sekolah, terutama dukungan keluarga dan lingkungan belajar di rumah. Artinya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas guru, tetapi juga oleh ekosistem yang mengelilingi peserta didik.
Keluarga sebagai Fondasi Utama
Dalam konteks ini, keluarga memegang peran yang tidak tergantikan. Rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru pertama bagi anak. Nilai-nilai dasar seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan empati tidak dibentuk melalui ceramah di kelas, melainkan melalui interaksi sehari-hari di rumah.
Al-Qur’an menegaskan tanggung jawab tersebut dalam firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan, khususnya pendidikan moral dan spiritual, merupakan amanah utama orang tua.
Dalam kajian pendidikan modern, Joyce Epstein menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak memiliki korelasi kuat dengan prestasi akademik dan perkembangan sosial. Anak yang mendapatkan dukungan emosional dan akademik di rumah cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi.
Sayangnya, masih banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Logika “sudah membayar biaya pendidikan” sering kali dijadikan alasan untuk menarik diri dari proses pendidikan anak. Padahal, tanpa fondasi keluarga yang kuat, sekolah hanya bekerja setengah jalan.
Masyarakat dan Pengaruh Lingkungan
Selain keluarga, masyarakat juga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter anak. Lingkungan sosial, teman sebaya, serta arus informasi digital turut memengaruhi cara berpikir dan bertindak generasi muda.
Teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura menjelaskan bahwa individu belajar melalui observasi dan imitasi. Anak-anak meniru apa yang mereka lihat di lingkungan sekitarnya. Karena itu, kualitas lingkungan sosial menjadi faktor penentu dalam pembentukan karakter.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Seseorang itu tergantung agama temannya…”
(HR. Sunan Abu Dawud)
Hadits ini menegaskan bahwa lingkungan pergaulan memiliki dampak signifikan terhadap nilai dan perilaku seseorang.
Di berbagai daerah, komunitas lokal seperti karang taruna, masjid, dan komunitas literasi telah menjadi ruang pembelajaran nonformal yang efektif. Di ruang-ruang ini, anak-anak belajar tentang kepemimpinan, kerja sama, dan kepedulian sosial—nilai-nilai yang tidak selalu tercakup dalam kurikulum formal.
Namun, tantangan juga datang dari lingkungan digital. Paparan hoaks, konten negatif, dan budaya instan dapat mengikis nilai-nilai yang telah ditanamkan di sekolah dan keluarga. Tanpa pengawasan dan pendampingan, teknologi justru berpotensi menjadi faktor destruktif.
Menguatkan Gotong Royong Pendidikan
Dalam konteks ini, semangat gotong royong dalam pendidikan perlu dihidupkan kembali. Gagasan Merdeka Belajar yang diperkenalkan oleh Nadiem Makarim tidak akan mencapai dampak optimal jika hanya dibebankan pada guru dan sekolah.
Pendidikan harus dipahami sebagai tanggung jawab kolektif. Sekolah menyediakan kerangka akademik, keluarga menanamkan nilai, dan masyarakat membentuk karakter sosial. Ketiganya harus berjalan searah.
Tanpa keterlibatan orang tua, kebijakan pendidikan akan kehilangan daya jangkau di tingkat rumah tangga. Tanpa dukungan masyarakat, nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan mudah tergerus oleh realitas sosial.
Penutup
Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya. Karena itu, ia tidak bisa diserahkan hanya kepada satu pihak.
Sekolah penting. Guru vital.
Namun keluarga adalah fondasi, dan masyarakat adalah ruang tumbuh.
Jika ketiganya bergerak bersama, cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa bukan lagi sekadar slogan, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan.
Momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa mendidik adalah kerja bersama.
Dan perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil dari rumah, dari lingkungan, dari kita semua.
