Sistem Keuangan Global Berubah, Indonesia Harus Adaptif

Jakarta — Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa Indonesia perlu membangun arsitektur pendanaan baru untuk menghadapi perubahan besar dalam sistem ekonomi global yang semakin terfragmentasi.

Perubahan lanskap global ditandai dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, pergeseran aliansi ekonomi, serta berkurangnya ketergantungan pada sistem keuangan yang sebelumnya terpusat. Kondisi ini membuat negara berkembang seperti Indonesia harus lebih adaptif dalam mengelola sumber pembiayaan pembangunan.

Ekonom menilai bahwa Indonesia tidak bisa lagi hanya bergantung pada sumber pendanaan konvensional, terutama yang berbasis dolar Amerika Serikat. Diperlukan strategi baru yang lebih progresif dan terdiversifikasi agar mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional, memperdalam pasar keuangan domestik berbasis rupiah, serta memperluas sumber investasi dan likuiditas. Selain itu, inovasi dalam instrumen pembiayaan juga perlu terus dikembangkan agar lebih fleksibel dan efisien.

Fragmentasi ekonomi global juga menyebabkan ketidakseimbangan likuiditas serta meningkatnya risiko dalam sistem keuangan internasional. Oleh karena itu, Indonesia didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna sistem, tetapi juga berperan aktif sebagai pembentuk atau “arsitek” dalam menentukan sumber pendanaannya sendiri. (Antara News)
Langkah ini dinilai penting agar Indonesia mampu menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global, sekaligus memanfaatkan peluang baru yang muncul dari perubahan struktur ekonomi dunia.